The impossible

Banyak yang dipikirkan akhir-akhir ini. Ini secuil, aja.

Advertisements

Originally posted in my Instagram account, @arga_saragih

Punggung, ceker, bagian apapun kuterima. Aku tidak bersedih. Yang kuterima adalah bagianku. Yang terbaik bagiku.

Menyedihi sesuatu yang tidak bisa kudapatkan? Pikir lagi. Bukannya tidak bisa, tetapi tidak layak. Karena di sana, dia yang layak juga menantikan untuk diterima.

Celotehan Arga (2018)

Inspirasi: Rectoverso, Hanya Isyarat


Aku ingin muntah.

Aku bertanya, “Kenapa perasaanku tidak bisa kukendalikan selayaknya aku leluasa memilih untuk tidak mengacungkan jari ketika ditanya oleh guru di sekolah dulu?”

Aku ingin bicara.

Tetapi segala tanggung jawab, ekspektasi, dan norma itu telah menjadikan pikiranku menjadi mesin penghitung.

Aku menghitung:

  • Banyak orang yang tersakiti
  • Banyak biaya yang kubayar
  • Banyak waktu yang terbuang
  • Banyak malam yang tidak bisa kupercaya
  • Banyak rasa yang harus kubuang jauh
  • Banyak asa yang akan putus

Manusia memang menyusahkan saja.

Aku tidak mau hidup lama di dunia ini.

Setidaknya tidak berlama-lama menjadi manusia.

Ha!

Dasar pembohong dan penyombong.

“Mesin penghitung?”
Bualan besar.
Yang kau inginkan hanyalah
menyenangkan egomu yang besar itu, bukan?

Ha!

Kamu memang lihai, diriku.
Tak banyak bicara tapi kamu tahu persis gelagatku.

Apa maumu?

Aku tidak mau apapun.
Pertanyaan itupun hanyalah retorika
yang kau tanya bukan kepadaku, tapi kepadamu sendiri.

*tersenyum*
Kamu memang pandai menghindar.

Hentikan kesombonganmu.
Aku muak.

Hei.

Apa?

Apa pendapatmu tentang kastrasi?

Bukankah sang “Mesin Penghitung” tahu
banyaknya orang yang tersakiti jika hal itu terjadi?

Iya. Tahu betul.

Sejauh ini yang pasti sakit ada 4 orang.

4 orang itu yang perlu kau tanya pendapatnya.
Bukan aku.
Aku tidak peduli.

Tetapi Tuhan tidak akan sakit, kan?

Jangan tanya aku.
Aku bukan Tuhan.
Bahkan tidak mengenal-Nya.

Baiklah. Lupakan saja.
Aku tidak sampai hati bertanya pada 4 orang itu.

Pembual dan Pecundang.

*tersenyum*
Ah, aku hanya harus
bertahan di dunia ini sampai Tuhan memanggilku.
Tuhan, panggil aku. Cepat.

Bodoh.

Hei, boleh aku curhat?

Kau senang sekali retorika.
Aku adalah kau. Kau adalah aku.
Aku tidak bisa menolak kau.

*mendengus*
Aku berdoa beberapa waktu lalu.
Doa terpanjangku.
Padahal isinya hanya beberapa hal yang sama
kuucapkan berulang kali.

Aku bersyukur.
Aku memohon.
Aku kecewa.

Ketiga hal itu aku ulang selama doaku.

Aku putuskan, Amsal 23:18 akan kubuang
jauh-jauh dari daftar ayat favoritku.

Aku sekarang meyakini, harapan manusia
hanyalah omong kosong.


*playing ‘Rewrite the Stars’*

How foolish I am to believe that
we can rewrite the stars.

I, a mere human, could never
stand a chance against what God has decided

The stars are all laid out according to Him.

“Ask and it shall be given to you”

You still believe in that bull?

I am tired of this.

We can’t rewrite the stars, Arga.
-FIN-
Soli Deo gloria.

Author: Arga Roh Sahrijal Saragih

I love to learn. I love to code. I love to read. Gonna be a professional Software Engineer. Happy to sing and to write. Enjoy a good company. Prefer tea. Manage an online library at https://instagram.com/ruangbaca__

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s